Lampiaskan Hasrat Seks Menyimpang, Pensiunan Tipu Ratusan PNS

Lampiaskan Hasrat Seks Menyimpang, Pensiunan Tipu Ratusan PNS

Trenggalek,seputarmetro.net - Diduga mengalami kelainan seksual, Slamet Subagio (59), pensiunan PNS di Pemkot Kediri, warga Desa Kabuh Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang, nekat melakukan penipuan. Aksinya tersebut semata-mata hanya untuk melampiaskan hasrat seksnya. Namun aksi bulus tersebut akhirnya terbongkar, setelah polisi mendapat laporan dari sejumlah korban yang tertipu telah melakukan sejumlah ritual yang diperintahkan tersangka. Kini untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya, tersangka beserta sejumlah barang bukti HP, screen shoot sms tersangka, serta sprey yang terdapat bekas sperma tersangka. Pelaku saat ini diamankan di Mapolres Trenggalek, beberapa korbannya adalah Kiki Wahyu Rejeki (49),Camat Gandusari warga Kelurahan Surodakan Kecamatan Kabupaten Trenggalek, serta Suyanto (45), Kades Sumberbening Kecamatan Dongko. Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo, melalui Kasatreskrim Polres Trenggalek AKP Sumi Andana menyampaikan, tersangka dalam menjalankan aksinya mengaku sebagai pejabat pemerintahan. Bahkan, tersangka mencatut nama 2 pasangan cagub-cawagub Jatim dan menyuruh para korbannya untuk melakukan ritual "angon banteng unduh yoni." "Ritual tersebut dimaksudkan untuk menambah pamor atau Yoni agar sang calon menang dalam Pilkada Jatim 2018," jelas AKP Sumi Andana. Berdasarkan keterangan para saksi, korban dan tersangka serta hasil print out panggilan telepon, dan barang bukti berupa data sms handphone. Tersangka melakukan aksinya dengan cara menelepon dan menyuruh ritual kepada 174 korban yang seluruhnya adalah PNS. "Tersangka juga mengaku sebagai pejabat pemerintahan TNI,Polri, bahkan mencatut nama 2 pasangan cagub dan cawagub Jatim 2018," imbuhnya. Sementara itu , dari hasil pemeriksaan setidaknya sudah 174 PNS menjadi korban. Aksi bejat tersebut dilakukan tersangka sekira Januari sampai Maret dengan TKP di wilayah Trengggalek, dengan korban sejumlah 3 orang yakni guru SD di Pule, Camat Bendungan dan Camat Tugu. Tersangka saat itu, menelpon korban dan mengaku sebagai orang kepercayaan cawagub Emil dan menyuruh korban melumuri badan dengan tinta printer dan digosok dengan sikat panci. Tidak hanya itu, tahun 2016 lalu akibat pengaruh tindakan tersangka, 2 PNS di Kabupaten Trenggalek nekat mentatto seluruh wajahnya secara permanen. Tidak berhenti sampai disitu, kurun waktu Januari sampai dengan Maret tahun ini, terdapat 4 korban diantaranya kepala sekolah dan guru di Sumoroto Kabupaten Ponorogo. Saat itu korban juga melumuri seluruh badannya dengan tinta printer sambil digosok dengan pembersih panci, tersangka saat itu mengaku sebagai orang kepercayaan cawagub Puti Guntur Soekarno. Belum lagi beberapa wilayah lain di Jawa Timur, diantaranya Banyuwangi terdapat 10 korban, Lumajang 7 korban, Jember terdapat 11 korban, Tulungagung 17 korban, Bojonegoro 1 korban, Ngawi 3 korban , serta sejumlah wilayah lainnya yang masih dalam pengembangan. Ditambahkan Kasat Reskrim Polres Trenggalek, dari hasil pemeriksaan kejiawaan, tersangka diduga kuat mengidap deviasi penyimpangan seksual skatologia. Yakni tidak dapat ereksi, tidak bisa melakukan hubungan badan dengan lawan jenis. Namun dapat mecapai orgasme jika terlebih dahulu menelepon para korban, jika korban menyatakan setuju maka tersangka seketika langsung muncul birahinya "Selanjutnya tersangka tidur tengkurap dalam keadaan telanjang, sambil berimajinasi bahwa para korban telah secara fisik, dan psikis dibawah tekanan dan melakukan perintah-perintahnya," jelas AKP Sumi Andana. Kapolres menyampaikan para korban sebagian besar adalah pejabat pemerintahan,pns, dengan mencatut seseorang yang mempunyai jabatan strategis di pemerintahan atau politik dengan iming-iming, jika ritual yang dilakukan uuntuk memenangkan salah satu cawagub dan cagub yang ikut dalam kontestasi pilkada jatim 2018. Para korban akan diberikan jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya . Akibat perbuatanya, tersangka dikenakan pasal 45a ayat 1 dan atau pasal 45 ayat 3 UU RI NO. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI NO.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Ancaman hukumannya adalah maksimal 4 tahun penjara dan atau denda paling banyak Rp 705 juta. (nar)

Sebelumnya ‚ÄčIbu Rumah Tangga di Soko Tuban Nekat Jadi Pengedar Sabu di Desanya
Selanjutnya Polisi Buru Pemasok Sabu ke Artis Riza Shahab Cs