KPK Tetapkan Bupati Nganjuk Tersangka Pencucian Uang

KPK Tetapkan Bupati Nganjuk Tersangka Pencucian Uang

Jakarta,seputarmetro.net - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan Bupati Nganjuk nonaktif, Taufiqurrahman sebagai tersangka. Kali ini, Taufiqurrahman ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). ‎"KPK menemukan adanya perbuatan yang diduga merupakan TPPU yaitu perbuatan menempatkan, mentransferkan, membayarkan, menghibahkan membawa ke luar negeri, menukarkan mata uang atas harta kekayaan yang diduga hasil tindak pidana korupsi dengan tujuan menyamarkan asal usul harta kekayaan tersebut baik sumber lokasi, peruntukkan, kepemilikan sendiri harta kekayaan yang patut diduga korupsi," kata Jubir KPK, Febri Diansyah, Senin (8/1). Kasus ini merupakan kasus ketiga yang menjerat Taufiqurrahman di KPK. Sebelumnya, KPK menetapkan Taufiqurrahman sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait perekrutan dan pengelolaan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Nganjuk. Dalam kasus yang bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) ini, Taufiqurrahman diduga menerima Rp 300 juta terkait perekrutan dan pengelolaan ASN di Pemkab Nganjuk. Dalam pengembangan kasus ini, KPK menemukan bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan Taufiqurrahman sebagai tersangka kasus gratifikasi selama menjabat sebagai Bupati Nganjuk. Taufiqurrahman diduga menerima gratifikasi sebesar Rp 5 miliar secara bertahap. Gratifikasi itu diduga berkaitan dengan fee proyek, perizinan, promosi atau mutasi ASN selama rentang 2013-2017. Taufiqurrahman kemudian mencuci uang hasil korupsi ini dengan menyamarkannya. "TFR (Taufiqurrahman) diduga telah membelanjakan penerimaan ‎hasil gratifikasi berupa kendaraan yang diatasnamakan orang lain, tanah, dan uang tunai dalam bentuk lainnya," katanya. Febri menjelaskan, aset-aset dibelanjakan Taufiq melalui pihak lain dan saat ini telah disita penyidik sebagai barang bukti. ‎Di antaranya, satu unit mobil Jeep Wrengler Sahara Artic 4D tahun 2012, dan satu unit mobil smart Fortwo, serta satu bidang tanah seluas 12,6 hektar di sebuah desa di Nganjuk. Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Taufiqurrahman disangkakan melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Febri memastikan, tim penyidik akan terus mengusut dan mengembangkan kasus dugaan pencucian uang ini. Saat ini, tim penyidik masih menelusuri aset-aset dan memvalidasi penerimaan-penerimaan lain. Untuk itu, tak menutup kemungkinan Rp 5 miliar yang diduga diterima Taufiqurrahman akan terus bertambah.(R-2/fn/bberapa sumber)

Sebelumnya Edarkan Uang Palsu, IRT di Pekalongan Dibekuk Polisi
Selanjutnya Biadab, Bapak Banting Bayi 16 Bulan Hingga Tewas